Tim KKN-IK IAIN Kudus Kecamatan Margoyoso, Gelar Seminar Online Moderasi Beragama tentang Syekh Ahmad Mutamakkin

2 min read

Tim KKN-IK IAIN Kudus Kecamatan Margoyoso, Gelar Seminar Online Moderasi Beragama tentang Syekh Ahmad Mutamakkin

Tim KKN-IK IAIN Kudus Kecamatan Margoyoso, Gelar Seminar Online Moderasi Beragama tentang Syekh Ahmad Mutamakkin

PATI, PATINEWS.COM

Tim KKN-IK IAIN Kudus Kecamatan Margoyoso bekerja sama dengan komunitas budaya Kaneman Kajen Jonggringan (Kanjengan) berhasil menyelenggarakan seminar dengan mengangkat tokoh lokal Desa Kajen, Margoyoso Pati, Syekh Ahmad Mutamakkin yang digelar secara virtual lewat aplikasi Zoom dan YouTube. Dengan tema Moderasi Beragama dalam Perjuangan Syekh Ahmad Mutamakkin, kemarin Sabtu (18/09/2021).

Dihadiri Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Muzayyidatul Habibah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa adanya keragaman masyarakat Islam di Indonesia menjadi sesuatu yang sensitif, sehingga lewat seminar ini diharapkan bisa mengedukasi terkait perlunya meningkatkan kesadaran beragama secara moderat.

“Dalam moderasi beragama kita bisa lebih dewasa dan dapat meredam perilaku beragama yang bersifat ekstrim,” ungkapnya.

Selain itu, ia menambahkan, dengan adanya sikap yang moderat dalam beragama dapat menumbuhkan masyarakat yang cinta pada tanah airnya (nasionalisme). Tidak memberontak pada tatanan hidup yang telah disepakati bersama.

Sementara itu, Taufiq Hakim selaku pemateri pertama menjelaskan bahwa wacana moderasi beragama bukan sesuatu yang baru, faktanya secara historis sudah dipengaruhi sejak zaman pra islam, akan tetapi isu tersebut muncul kembali setelah adanya fenomena beragama.

“Sebenarnya moderasi beragama adalah cara pandang seseorang dalam beragama bukan (dilihat dari) agamanya,” jelasnya.

Terkait moderasi beragama yang ditinjau dari Syekh Ahmad Mutamakkin, mahasiswa Universitas Gadjah Mada Magister Fakultas Ilmu Bahasa ini memberikan penjelasan dari sepasang ukiran naga raja bersumping bunga mandala yang terdapat di mimbar Masjid Kajen, yang konon menurut orang sepuh terdahulu disebut sebagai Naga Aji Saka atau sosok makhluk yang gemar tirakat.

“Mbah Mutamakkin dalam bermoderasi menjalankan dakwahnya dengan meninggalkan sepasang naga di bagian mimbar Masjid Kajen,” katanya.

Terakhir, mengenai makna mimbar di Masjid Kajen menggambarkan perjalanan hidup manusia dan mencerminkan budaya lama masyarakat kajen yang masih dilestarikan sampai sekarang.

“Pengaruh Islam di bawah Mbah Mutamakkin tidak serta merta menghilangkan tradisi lama masyarakat setempat karena simbol tersebut difungsikan sebagai ajaran perpaduan kebudayaan Hindu, Jawa, Cina dan Islam,”jelasnya.

Disamping itu, M. Farid Abbad, Koordinator Kanjengan yang hadir sebagai pemateri kedua menerangkan, dari hasil riset sederhana yang telah dilakukan, dairoh (papan tulisan melingkar) yang terdiri dari enam enam lingkaran yang terletak di langit-langit Masjid Kajen merupakan perwujudan dari suluk kebudayaan Syekh Ahmad Mutamakkin.

“Seluruh rangkaian sejarah kehidupan Mbah Ahmad Mutamakkin itu tidak bisa dilepaskan dari konstruksi pengetahuan yang beliau miliki yang kemudian ditulis dan terjewantahkan di dalam dairoh. Bagi banyak kalangan saya kira ini masih menjadi misteri dan memiliki segudang pertanyaan penting,” katanya.

Lanjut ia, menurutnya hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari perjalanan intelektual Syekh Ahmad Mutamakkin yang sampai ke timur tengah. Tradisi itu tidak bisa dilepaskan dari teks-teks keagamaan, terutama yang tertuang di dalam dairoh Syekh Ahmad Mutamakkin merupakan teks-teks yang memiliki nilai tasawuf.

“Sejauh ini ada kurang lebih dua atau tiga tokoh yang saya kaji, yaitu secara tekstual yang menggambarkan tentang makna-makna dari apa yang tertulis di dalam dairoh itu,” ungkapnya.

(TIM KKN-IK IAIN Kudus Kecamatan Margoyoso)

Source Of Tim KKN-IK IAIN Kudus Kecamatan Margoyoso, Gelar Seminar Online Moderasi Beragama tentang Syekh Ahmad Mutamakkin From all source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *